s.id

Apa Itu Brainrot? Pengertian dan Dampaknya di Media Sosial

by Admin

Pernah merasa kepala penuh dengan meme, sound TikTok, istilah random, atau potongan video yang sebenarnya tidak penting-penting amat, tapi entah kenapa terus teringat?

Baru saja melihat satu video, lalu beberapa menit kemudian muncul video lain yang mirip. Scroll lagi. Ketemu meme. Scroll lagi. Ketemu sound yang sama. Tiba-tiba sudah satu jam berlalu.

Kalau kamu merasa relate, mungkin kamu sudah tidak asing dengan istilah brainrot.

Belakangan ini, kata brainrot semakin sering muncul di media sosial. Mulai dari konten absurd, meme yang tidak masuk akal, istilah seperti Skibidi, sigma, rizz, sampai tren 6-7 yang sulit dijelaskan tetapi tetap saja membuat orang ikut menggunakannya.

Tapi sebenarnya, apa itu brainrot? Apakah benar bisa membuat “otak rusak”?

Apa Itu Brainrot?

Secara harfiah, brainrot berarti “pembusukan otak”. Namun, di internet istilah ini tentu tidak digunakan secara harfiah.

Brainrot biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten internet tertentu, terutama konten yang repetitif, absurd, random, atau sangat menghibur sampai memenuhi pikiran.

Misalnya, kamu melihat sebuah meme berkali-kali sampai hafal dialognya. Atau sebuah sound terus terngiang di kepala meskipun kamu sudah menutup aplikasi.

Bahkan, istilah brainrot juga sering digunakan untuk menyebut konten itu sendiri. Konten yang dianggap tidak terlalu bermakna, tetapi sangat mudah dikonsumsi dan membuat orang ingin terus melihatnya.

Jadi, ketika seseorang berkata, “I have brainrot,” mereka biasanya tidak sedang mengatakan bahwa otaknya benar-benar rusak. Mereka sedang bercanda tentang betapa dalamnya mereka terjebak dalam suatu tren atau budaya internet.

Kenapa Brainrot Bisa Populer?

Salah satu alasan brainrot mudah berkembang adalah karena media sosial memang dirancang untuk membuat kita terus menemukan konten baru.

Algoritma mempelajari apa yang kita tonton, sukai, bagikan, atau lewati. Semakin sering kita berinteraksi dengan jenis konten tertentu, semakin banyak konten serupa yang muncul di layar.

Akhirnya, terbentuk sebuah siklus:

Lihat → tertarik → tertawa → scroll → menemukan konten serupa → scroll lagi.

Kontennya juga tidak harus rumit.

Justru, video pendek dengan visual sederhana, kalimat random, atau lelucon yang sebenarnya tidak masuk akal bisa lebih mudah menarik perhatian karena tidak membutuhkan banyak waktu untuk dipahami.

Dari Skibidi sampai 6-7

Fenomena brainrot bisa dilihat dari berbagai tren internet yang berkembang sangat cepat.

Salah satunya adalah Skibidi Toilet, serial video animasi absurd yang menjadi fenomena internet dan melahirkan berbagai meme serta referensi di media sosial.

Kemudian muncul berbagai istilah lain seperti sigma, rizz, aura, Ohio, hingga 6-7. Sebagian istilah mungkin awalnya berasal dari konteks tertentu, tetapi kemudian berkembang menjadi meme dan bahasa internet yang digunakan secara lebih luas.

Yang menarik, tidak semua orang yang menggunakan istilah tersebut benar-benar tahu asal-usul atau maknanya.

Kadang cukup karena “lucu”, “sering muncul di FYP”, atau semua orang di sekitar kita menggunakannya.

Dan di situlah kekuatan budaya internet bekerja.

Kenapa Kita Bisa Ketagihan Konten Random?

Ada beberapa alasan mengapa konten seperti ini begitu mudah membuat kita terus scrolling.

1. Kontennya singkat dan mudah dicerna

Video pendek tidak membutuhkan banyak waktu atau energi untuk dipahami. Kita bisa menontonnya sambil makan, menunggu kendaraan, atau bahkan ketika sedang pura-pura fokus bekerja.

2. Selalu ada kejutan

Konten absurd sering kali sulit ditebak. Kita tidak tahu apa yang akan muncul dalam beberapa detik berikutnya.

Rasa penasaran ini membuat kita ingin terus melihat konten berikutnya.

3. Mudah dibagikan dan ditiru

Satu meme bisa dibuat ulang menjadi ratusan versi. Satu sound bisa digunakan oleh ribuan orang.

Semakin banyak orang ikut menggunakan sebuah tren, semakin besar pula kemungkinan tren tersebut terus menyebar.

4. Menjadi bahasa bersama

Internet punya cara unik untuk menciptakan “bahasa” sendiri.

Ketika seseorang mengatakan “6-7” atau menyebut sebuah meme tertentu, orang yang memahami referensinya langsung tahu maksudnya.

Tidak perlu penjelasan panjang.

Satu kata bisa menjadi satu lelucon.

Apakah Brainrot Selalu Buruk?

Belum tentu.

Istilah brainrot memang sering digunakan dengan konotasi negatif, tetapi menikmati konten absurd sesekali bukan berarti sesuatu yang buruk.

Media sosial juga bisa menjadi tempat untuk bersantai, tertawa, mencari hiburan, dan terhubung dengan orang lain.

Masalahnya muncul ketika konsumsi konten mulai terasa sulit dikendalikan.

Misalnya, kamu berniat scrolling selama 10 menit tetapi terus berlanjut hingga berjam-jam. Atau kamu terus membuka media sosial meskipun sebenarnya sudah lelah, bosan, atau memiliki pekerjaan lain yang harus diselesaikan.

Dalam kondisi seperti ini, yang perlu diperhatikan bukan sekadar “apakah kontennya brainrot?”, tetapi bagaimana kebiasaan kita dalam mengonsumsi konten tersebut.

Brainrot dan Attention Span

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah hubungan antara konsumsi video pendek dan kemampuan seseorang untuk mempertahankan perhatian.

Jika kita terbiasa mendapatkan hiburan baru setiap beberapa detik, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih lama bisa terasa membosankan.

Membaca buku 30 menit?

Bosan.

Menonton video dua jam?

Bisa saja.

Karena itu, penting untuk tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber hiburan dan stimulasi.

Bukan berarti kamu harus menghapus semua aplikasi dan hidup tanpa internet.

Cukup mulai dengan memberi jeda.

Bagaimana Menghindari Brainrot Berlebihan?

Tidak perlu langsung melakukan digital detox ekstrem. Beberapa kebiasaan sederhana sudah bisa membantu.

Pertama, sadari berapa lama kamu scrolling. Kadang kita tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam karena setiap video hanya berdurasi beberapa detik.

Kedua, beri batas waktu. Gunakan fitur pengingat waktu di perangkat atau aplikasi untuk membantu mengontrol durasi penggunaan media sosial.

Ketiga, variasikan konten. Tidak ada salahnya menikmati meme, tetapi sesekali isi timeline dengan konten edukasi, berita, hobi, atau topik yang benar-benar kamu minati.

Keempat, jangan takut bosan. Bosan tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Justru, memberi ruang untuk tidak melakukan apa-apa bisa membantu kita keluar dari kebiasaan mencari stimulasi setiap saat.

Jadi, Apakah Kita Semua Kena Brainrot?

Mungkin sedikit.

Di era ketika internet terus menawarkan sesuatu yang baru setiap detik, hampir semua orang pernah terjebak dalam rabbit hole konten.

Menonton satu video berubah menjadi sepuluh. Satu meme berubah menjadi inside joke. Satu sound terus terputar di kepala sepanjang hari.

Itulah brainrot dalam budaya internet.

Brainrot bukan istilah medis dan bukan berarti otak kita benar-benar “membusuk”. Istilah ini lebih sering digunakan sebagai slang untuk menggambarkan keterikatan kita dengan konten internet yang begitu kuat hingga memenuhi pikiran atau percakapan sehari-hari.

Pada akhirnya, bukan soal apakah kita harus berhenti menikmati konten absurd.

Kita tetap boleh tertawa melihat meme, mengikuti tren, atau ikut mengatakan “6-7” tanpa alasan.

Yang penting adalah tahu kapan harus scroll, dan kapan harus stop scrolling.

Karena kalau setiap kali membuka HP niatnya cuma “sebentar”, tapi tahu-tahu sudah dua jam…

Mungkin itu bukan lagi sekadar brainrot. Kamu memang sudah masuk terlalu dalam.

Apakah post ini membantu?

s.id

© 2026