
Beberapa tahun terakhir, dunia digital marketing digempur oleh fenomena "FYP" (For You Page)—sebuah mimpi bagi banyak brand untuk bisa go viral dan mendapatkan jutaan engagement dalam hitungan jam. Namun, kini, audiens mulai jenuh. Konten viral yang dulu membanjiri timeline sekarang justru sering di-scroll cepat atau bahkan diabaikan.
Kita memasuki era post-viral, di mana kesuksesan digital marketing tidak lagi bergantung pada kebetulan trending, tetapi pada strategi yang berkelanjutan, berbasis data, dan benar-benar terhubung dengan audiens.
Lalu, bagaimana brand bisa tetap relevan dan menang di era ini? Artikel ini akan membongkar strategi digital marketing yang tidak lagi sekadar mengejar FYP, tetapi fokus pada nilai jangka panjang, kedalaman konten, dan hubungan autentik dengan pelanggan.
Recommended posts
FYP Bukan Lagi Segalanya: Mengapa Viralitas Tidak Cukup?
1. Kejenuhan Audiens terhadap Konten Viral
Platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts membanjiri pengguna dengan konten singkat dan cepat. Namun, semakin banyak orang yang merasa lelah dengan konten viral yang seringkali tidak bermakna atau sekadar mengikuti tren tanpa nilai tambah.
Contoh:
Banyak video TikTok yang hanya mengejar tantangan dance atau suara viral, tetapi tidak meninggalkan kesan bagi penonton.
Brand yang hanya ikut-ikutan tren tanpa strategi jelas seringkali dianggap cringe atau tidak otentik.
2. Viral ≠ Konversi
Banyak brand berpikir, "Kalau sudah viral, pasti laku!" Faktanya? Engagement tinggi tidak selalu berarti penjualan naik.
Data Menarik:
Menurut HubSpot, 60% konten viral tidak menghasilkan konversi signifikan karena tidak memiliki call-to-action (CTA) yang jelas.
Nielsen menemukan bahwa 70% konsumen lebih memilih brand yang konsisten dalam menyampaikan nilai dibandingkan yang sekadar viral.
3. Algoritma Berubah, Tren Berlalu
Algoritma media sosial terus berubah. Apa yang hari ini jadi tren, besok bisa hilang. Jika strategi marketing hanya mengandalkan FYP, maka brand akan terus berlari di tempat, selalu mengejar sesuatu yang tidak pasti.
Strategi Digital Marketing di Era Post-Viral
1. Konten yang Mendalam & Bernilai (Beyond Short-Form Content)
Jika dulu konten 15 detik bisa viral, sekarang audiens mulai menghargai konten yang lebih dalam, edukatif, dan berbobot.
Contoh Strategi:
Podcast & Webinar: Format panjang yang membangun kedekatan dengan audiens.
Blog & Artikel Mendalam: Seperti yang Anda baca sekarang—konten panjang yang memberikan solusi nyata.
Video Dokumenter Mini: Seperti yang dilakukan Nike dengan cerita atlet inspirasional.
Studi Kasus: GoPro tidak hanya mengandalkan video pendek, tetapi juga membuat film dokumenter pendek ("The Firewire") yang menampilkan kisah nyata atlet ekstrem. Hasilnya? Engagement tinggi dan loyalitas brand yang kuat.
2. Community-Driven Marketing (Bukan Hanya Influencer)
Influencer marketing masih efektif, tapi di era post-viral, membangun komunitas jauh lebih kuat.
Cara Membangun Komunitas:
Group Eksklusif (Facebook Group, Discord, Telegram): Tempat di mana pelanggan bisa berinteraksi langsung dengan brand.
User-Generated Content (UGC): Meminta pelanggan membuat konten tentang produk, bukan hanya membayar influencer.
Live Session dengan Pakar: Seperti AMA (Ask Me Anything) di Reddit atau Instagram Live.
Contoh Sukses:
Glossier sukses besar karena membangun komunitas beauty enthusiast yang aktif memberikan masukan produk.
Harper Wilde (brand bra) menggunakan Facebook Group untuk diskusi langsung dengan pelanggan.
3. Personalisasi & Hyper-Targeting (Lebih dari Sekadar Demografi)
AI dan data analytics memungkinkan personalisasi yang sangat spesifik.
Teknik Personalisasi:
Dynamic Ads: Iklan yang menyesuaikan berdasarkan perilaku pengguna.
Email Marketing Segmentasi Tinggi: Misal, mengirim rekomendasi produk berdasarkan riwayat belanja.
Chatbot dengan AI: Seperti yang digunakan Sephora untuk rekomendasi makeup.
Data Penting:
80% konsumen lebih mungkin membeli dari brand yang menawarkan pengalaman personalisasi (Epsilon).
Campaign dengan personalisasi bisa meningkatkan CTR hingga 200% (HubSpot).
4. SEO & Evergreen Content (Traffic yang Konsisten)
Konten viral datang dan pergi, tapi konten SEO yang evergreen bisa mendatangkan traffic bertahun-tahun.
Strategi SEO di 2024:
Optimasi untuk Voice Search: Semakin banyak orang mencari lewat suara (Google Assistant, Siri).
Featured Snippet Optimization: Menjawab pertanyaan langsung di posisi teratas Google.
Long-Form Content (3.000+ kata): Lebih banyak kata kunci, lebih banyak backlink, lebih banyak otoritas.
Contoh:
Ahrefs & Backlinko menguasai traffic dengan konten mendalam tentang SEO.
Shopify Blog menghasilkan ribuan lead dari artikel panduan bisnis online.
5. Hybrid Marketing (Gabungan Organic & Paid)
Hanya mengandalkan organic atau paid saja tidak cukup. Kombinasi keduanya memberi hasil terbaik.
Contoh Hybrid Strategy:
Buat konten viral organik (TikTok/Reels).
Gunakan engagement tinggi dari konten itu untuk target iklan berbayar.
Arahkan traffic ke funnel konversi (website, WhatsApp Business).
Hasil:
Biaya iklan lebih efisien karena audiens sudah warming up.
Konversi lebih tinggi karena ada kepercayaan dari konten organik.
Brand yang Sudah Sukses Tanpa FYP
1. Duolingo: Dari Viral ke Strategi Berkelanjutan
Duolingo sempat viral dengan TikTok-nya yang lucu, tapi mereka tidak berhenti di situ. Mereka:
Membangun komunitas belajar bahasa.
Memiliki podcast dalam berbagai bahasa.
Menggunakan AI untuk personalisasi pembelajaran.
2. Liquid Death: Branding Anti-Mainstream
Mereka menjual air mineral dengan branding heavy metal. Alih-alih mengejar FYP, mereka fokus pada:
Konten satire & anti-iklan.
Merchandise unik (kaleng air mineral dengan desain ekstrem).
Komunitas loyal penggemar musik metal.
3. Morning Brew: Email Marketing yang Masih Kuat
Di era media sosial, Morning Brew justru sukses besar dengan newsletter email mereka yang:
Gaya bahasanya santai & relatable.
Konten ringkas tapi bernilai.
Personalisasi berdasarkan minat pembaca.



